
Nama : Andi Gigatera Halil
Makkasau
NIM : D121191054
Departemen : Teknik Informatika (B)
Mata Kuliah : Pendidikan Agama Islam
1. Proyeksikan diri anda; bagaimana beragama
dengan benar dan baik serta identifikasi faktor-faktor penunjang dan penghambat untuk
mewujudkan kesempurnaan dalam beragama.
2. Identifikasi diri Anda dalam kaitannya dengan
trilogi ajaran Islam yakni Islam, iman dan ihsan, dalam kehidupan anda sehari-hari.
3. Tuangkan point 1 dan 2 di atas dalam bentuk
esai.
Tidak dapat
dipungkiri lagi bahwa salah satu keistimewaan pada agama Islam yakni jati
dirinya sebagai rahmatan lil-‘alamin yang telah lama diterapkan serta sangat
lekat pada karakteristik Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wassalam disetiap
langkah dan dakwahnya. Belakangan ini kita juga sering mendengar bahwa Islam
sebagai rahmatan lil-‘alamin (Islam adalah rahmat bagi alam semesta). Dan
terkadang keistimewaan islam sebagai Ramatan Lil Alamin ini seringkali menjadi
lahan eksploitasi yang sangat berlebihan sehingga membuyarkan makna rahmatan
lil-‘alamin yang sebenarnya seperti yang sudah dijelaskan mereka para ulama
tafsir.
Akan tetapi
juga, tak jarang sebutan Islam sebagai rahmatan lil alamin dijadikan
justifikasi oleh sebagian kalangan ketika memberikan khutbah dalam sebuah
kebaktian agama lain. Olehnya itu melalui tulisan ini kita akan coba mengupas
ataupun membuka makna Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin yang saat ini mulai
dikaitkan dengan interaksi umat Islam terhadap non Muslim.
Sebagai umat
Islam, tentunya kita harus meyakini bahwa Islam sebagai rahmatan lil alamin,
karena sebutan Islam sebagai rahmatan lil alamin ini bukan hanya sekedar omong
kosong belaka. Akan tetapi Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin sudah dijelaskan
didalam al-Qur’an sebagai salah satu karakteristik yang sangat lekat pada
kepribadian Nabi Muhammad Shalaullahu Alaihi Wasallam, yang sudah semestinya
kita jadikan contoh untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap
Muslim bahkan juga mereka non muslim. Hanya saja, juga tak sedikit orang yang
menanyakan termasuk saudara kita yang muslim, apa sebenarnya yang membuat
munculnya sebutan islam adalah rahmatan lil alamin.?
Al-Imam Ibnu
Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya :
“Allah
Ta’ala memberitahukan bahwasanya Ia menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Yaitu Allah mengutus beliau sebagai
rahmat bagi mereka semua. Barang siapa yang menyambut rahmat ini dan
mensyukurinya, ia akan berbahagia di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang
menolak dan menentangnya, ia akan merugi di dunia dan akhirat sebagaimana yang
Allah firmankan :
أَلَمْ تَرَ إِلَى
الّذِيْنَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَالْبَوَارِ.
جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ
Tidakkah
kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran
dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. Yaitu neraka Jahannam. Mereka
masuk kedalamnya, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (QS. Ibrahim:
28-29)”
Sebutan
Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin ini juga dikutip dari salah satu ayat
al-Qur’an yang berbunyi, “wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam).” (QS. al-Anbiya’ : 107). Dalam ayat ini, kalimat rahmatan lil-‘alamin
secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad Shalaullahu Alaihi
Wasallam. Dalam artian, Allah tidak menjadikan Nabi Muhammad Shalaullahu Alaihi
Wasallam sebagai sebagai seorang Rasul, melainkan kerasulannya itu menjadi
rahmat bagi alam semesta atas apa yang dibawanya.
Ketika
menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sahabat Nabi saw
yang pakar dalam bidang tafsir berkata: “Orang yang beriman kepada Nabi
Muhammad Shalaullahu Alaihi Wasallam, maka akan memperoleh rahmat Allah dengan
sempurna di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Nabi
Muhammad Shalaullahu Alaihi Wasallam, maka tidak akan diselamatkan dari azab
yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti
dirubah menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.” Demikian penafsiran
yang dinilai paling kuat oleh al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsirnya,
Al-Durr Al-Mantsur.
Penafsiran
di atas juga diperkuat dengan hadits shahih yang menegaskan bahwa rahmatan
lil-‘alamin telah menjadi karakter serta kepribadian Nabi Muhammad Shalaullahu
Alaihi Wasallam. Ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar
mendoakan keburukan bagi orang-orang Musyrik, Nabi Muhammad Shalaullahu Alaihi
Wasallam justru menjawab: “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi
aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim).
Penafsiran
di atas memberikan gambaran, bahwa karakter rahmatan lil alamin memiliki
keterkaitan yang sangat erat dengan kerasulan Nabi Muhammad Shalaullahu Alaihi
Wasallam. Oleh karena itu, dalam kitab-kitab tafsir yang ada, kita tidak
menemukan keterkaitan makna rahmatan lil-‘alamin dengan sikap toleransi seorang
Muslim yang berlebih-lebihan dengan komunitas agama lain. Hal ini jelas bahwa
rahmatan lil alamin sangat erat kaitannya dengan kerasulan Nabi Muhammad
Shalaullahu Alaihi Wasallam. Sebagaimana Rasul adalah seseorang yang
mendapatkan wahyu dari Allah tentang suatu ajaran yang harus disampaikannya kepada
kepada seluruh ummat. Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan
pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin tidak boleh menghilangkan misi dakwah
yang dibawa oleh Islam itu sendiri, seperti dengan memberikan khutbah pada
kebaktian agama lain dengan alasan bahwa Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Dengan kata
lain seorang muslim tidak boleh menjadikan alasan bahwa islam adalah Rahmatan
Lil Alamin ketika bertoleransi saat memberikan khutbah pada agama lain dengan
minggalkan misi dakwah Islam yang sebenarnya, sebab diantaranya itu sebenarnya
tidak saling memiliki keterkaitan. Justru hal itu hanya akan mengaburkan makna
rahmatan lil alamin yang berkaitan erat dengan misi dakwah Islam yang
sebenarnya.
Oleh karena
itu seorang Muslim harus bertanggungjawab menjalankan misi rahmatan lil alamin,
Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk berinteraksi dengan komunitas
agama lain. Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat kita
sampaikan kepada ummat lain, jika komunikasi kita dengan mereka tidak berjalan
baik. Oleh karena itu, para Ahli Fuqaha atau Ahli Fiqih dari berbagai madzhab
membolehkan seorang Muslim memberikan sedekah sunnat kepada non Muslim yang
bukan kafir harbi. Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan untuk
menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non Muslim.
Sementara di
sisi lain, karena seorang Muslim juga bertanggungjawab menerapkan basyiran wa
nadziran lil-‘alamin (pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada
seluruh alam), Islam melarang umatnya berinteraksi dengan non Muslim dalam
hal-hal yang dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap mereka. Selain itu juga
mayoritas ahli fuqaha tidak memperbolehkan seorang Muslim menjadi pekerja
tempat ibadah agama lain, karena hal itu termasuk menolong orang lain dalam hal
kemaksiatan, ciri khas dan syiar agama mereka yang salah dalam pandangan Islam.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS. al-Ma’idah : 2).
Tentunya
besar harapan melalui tulisan ini agar kita sebagai kaum Muslimin senantiasa
membawa misi dakwah yang sebenar – benarnya tanpa menggunakan dalih Islam
sebagai Rahmatan Lil Alamin untuk berbagi kasih kepada mereka (Non Muslim).
Sebab didalam QS. Al Imran: 19 Allah Subhana Wata’Ala berfirman yang artinya :
“Agama yang
diridhoi oleh Allah adalah Islam,” (QS.AL Imran : 19)
Dan tentunya
juga Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin lebih memiliki keterkaitan dengan
kerasulan Nabi Muhammad Shalaullahu Alaihi Wasallam atas apa yang diawa oleh
beliau untuk orang – orang yang beriman kepada Allah Subhana Wata’Ala.
Sementara rahmat bagi orang kafir bukanlah berkasih sayang kepada mereka.
Karena sesungguhnya rahmat bagi mereka orang – orang kafir (Non Muslim) sesuai
pendapat para ahli tafsir adalah dengan tidak ditimpah musibah besar layaknya
yang menimpa ummat terdahulu.
Sumber referensi

0 Comments