TUGAS
PENGGANTI MID PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Oleh
Nama :
Andi Gigatera Halil Makkasau
NIM :
D121191054
DEPARTEMEN
TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
Manusia menurut pandangan Islam adalah
makhluk Allah s.w.t. yang memiliki unsur dan daya materi yang memiliki jiwa
dengan ciri-ciri berfikir, berakal, dan bertanggungjawab pada Allah s.w.t. yang
diciptakan dengan memiliki akhlak. Secara terperinci, manusia merupakan :
1. Makhluk yang Sempurna dan Mulia
Manusia
merupakan makhluk yang paling sempurna, baik dari wujud fisiknya maupun
rohaninya. Manusia menjadi makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan mulia
karena memiliki akal. Akal inilah yang membedakan manusia dengan maklhuk
lainnya. Akal membantu manusia untuk melakukan tindakan yang seharusnya
dilakukan oleh manusia.
2. Makhluk yang Bertanggungjawab
Manusia
sebagai makhluk yang paling sempurna, dimintai pertanggung jawabannya terhadap
amanah yang telah diberikan Allah s.w.t. kepadanya untuk mengelola alam semesta
bagi kesejahteraan semua makhluk. Hal ini sesuai dengan surat al-Ahzab ayat 72
berikut :
إنا عر ضنا الأ
ما نة على السموت والأرض والجبال فأبين أن يحملنها و أشفقن منها وحملها الإ نسن إنه
كان ظلوما جهولا
Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amnat itu dan mereka khawati akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zalim dan amat bodoh.
Setiap manusia menurut pandangan Islam adalah
seorang pemimpin, terutama memimpin dirinya sendiri. Setiap pemimpin akan
dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang telah dipimpinnya baik lahir
maupun batin, serta di dunia maupun di akhirat.
3. Khalifah dan Hamba Allah
Manusia
memiliki akal dan kalbu yang tidak dimiliki oleh makhuk lain, maka manusia
dijadikan sebagai khalifah dan sekaligus menjadi hamba Allah. Khalifah
mengandung makna bahwa Allah menjadikan manusia sebagai pemegang kekuasaan yang
bertugas untuk melaksanakan syariat-Nya di bumi, disebut dalam surat as-Shaad
ayat 26 berikut :
يداود إنا جعلنك
خليفة فى لارض فا حكم بين الناس با لحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله إن الذين
يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بم نسوأيوم الحساب
Wahai Dawud
sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan
adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia kana menyesatkan kamu
dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan
mendapat azab yang berat, karena mereka melupkan hari perhitungan.
4. Makhluk Berakhlak
Akhlak
merupakan gambaran atau wujud diri manusia yang sebenarnya, ketika manusia
memiliki akhlak yang baik, maka ia memilki kedudukan yang tinggi di mata Allah.
Sebaliknya jika manusia memiliki akhlak yang buruk, maka kedudukannya rendah di
mata Allah. Akhlak merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki manusia,
karena manusia memiliki akhlak, maka manusia mempunyai kemampuan untuk
membedakan yang hak dengan yang batil.
5. Makhluk Kontroversial
Manusia
disebut makhluk kontrovesial, karena ketika manusia menggunakan akalnya dan
dapat mengendalikan nafsunya serta beriman kepada Allah, maka manusia merupakan
makhluk yang paling tinggi kedudukannya diantara makhluk lain. Ketika manusia
tidak mempergunakan akalnya dan diperbudak oleh hawa nafsu, maka akan menjadi
makhluk yang paling hina dan rendah. Hal ini akan terjadi apabila manusia
melakukan kerusakan dan kejahatan di muka bumi, maka dampak kerusakan yang
timbul akan amat dahsyat, karena tidak ada makhluk lain yang dapat melakukan
kerusakan yang sedahsyat manusia.
Sedangkan SETAN menurut bahasa berasal dari ‘syathana’ dengan arti ‘menjauh’.
Dinamakan setan karena jauhnya dia dari kebenaran. Ada pula yang mengatakan
bahwa syaithan dari kata ‘syâtha’ yang berarti terbakar atau batal.
Pendapat
yang pertama ‘syathana’ lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga
kata ‘syaithan’ artinya adalah jauh dari kebenaran atau rahmat Allah.
Istilah
setan kemungkinan juga diambil dari bahasa Ibrani ‘syatan’ yang artinya lawan
atau musuh, sebagaimana ditulis oleh Syamsuddin Arif dalam “Orientalis dan
Dioabolisme Pemikiran, 2008” dengan merujuk pada W. Gesenius dalam Lexcon
Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros, s.v. ‘s-t-n’.
Ibnu Jarir
menyatakan, setan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin,
manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.
Firman
Allah, “..Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada
sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu
manusia.” (QS: Al-An’am [6]: 112).
Ibnu Jarir
berpendapat, Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan
dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak
dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan
karena jauhnya dari kebaikan, (Tafsir Ibnu Jarir jilid I).
Ibnu Katsir,
dalam memahami ayat di atas menyatakan bahwa setan adalah semua yang keluar
dari tabiat jenisnya dengan kejelekan, (Tafsir Ibnu Katsir Jilid II).
Imam Ahmad
meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata, aku datang kepada Nabi dan beliau
berada di masjid. Akupun duduk dan, beliau menyatakan, ‘Wahai Abu Dzar apakah
kamu sudah shalat?’ Aku jawab, ‘belum’. Beliau mengatakan, ‘Bangkit dan
shalatlah.’ Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Ia berkata, ‘Wahai Abu
Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.’ Abu Dzar
berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?’ Rasul
menjawab, ‘Ya.’
Setan adalah
musuh nyata bagi manusia (QS. 5: 7, 17: 53, 35: 6), itu karena setan adalah
pembangkang (‘ashiy), berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (mârid dan marîd).
Setan selalu menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan pastinya,
menyesatkan (yudhillu) orang banyak dengan segala trik dan strategi yang
dimiliki.
Caranya,
dengan menyusup dan memengaruhi (yatakhabbath), merasuk dan merusak (yanzaghu),
menaklukkan dan menjatuhkan (istawâ), menguasai (istahwadza),
menghalang-halangi (yashuddu), menakut-nakuti (yukhawwifu), merekomendasi
(sawwala) dan menggiring (ta’uzz), menyeru (yad’u) lalu menjebak (yaftinu).
Tidak hanya itu, setan juga menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana
lahum ‘a’maluhum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan fikiran
seseorang (yuwaswisu), menjanjikan dan memberikan iming-iming (yaiduhum wa
yumannihim), memberdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurûr), membuat orang
lupa lagi lalai (yunsî), menyulut konflik dan kebencian (yûqi’u al-‘alâdawah
wal-baghda’), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’muru bil fahsya’i
wal-munkar), serta menyuruh orang supaya kafir (qâla lil insan ukfur).


0 Comments